PENGARUH DIFERENSIASI SOSIAL DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Senin, 27 Mei 2013

PENGARUH DIFERENSIASI SOSIAL DAN STRATIFIKASI SOSIAL


Keberadaan sistem diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam masyarakat tentunya membawa pengaruh tersendiri bagi kehidupan sosial terutama struktur sosial. Mengapa demikian?

Diferensiasi sosial dalam masyarakat mengacu pada perbedaan atau penggolongan masyarakat walaupun secara horizontal. Perbedaan-perbedaan ini dapat dilihat dari adanya keragaman suku dan etnik, keragaman agama, keragaman pekerjaan, kesemua perbedaan ini menjadikan struktur masyarakat menjadi majemuk. Suatu masyarakat yang majemuk umumnya memiliki kebudayaan yang bersifat diverse (bermacam-macam).

Secara umum masyarakat majemuk ditandai dengan berkembangnya sistem nilai dari kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya dengan penentuan para anggota secara tegas dalam bentuknya yang relatif murni, serta oleh timbulnya konflik-konflik sosial atau setidaknya oleh kurangnya integrasi dan saling ketergantungan di antara kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya. Namun tidak selamanya masyarakat majemuk mempunyai dampak negatif.

Struktur masyarakat yang majemuk tentunya memiliki khazanah budaya yang kaya. Selain itu, adanya diferensiasi sosial menjadikan masyarakat seolah-olah terkotak-kotak. Situasi ini mendorong munculnya sikap primordialisme. Istilah primordialisme menggambarkan adanya ikatan-ikatan seseorang dalam kehidupan sosial dengan hal-hal yang dibawa sejak awal kelahirannya, misalnya kesukubangsaan, kedaerahan, ras, dan lain-lain. Dalam sosiologi primordialisme diartikan sebagai perasaan kesukuan seseorang yang berlebihan.

Pada dasarnya sikap primordialisme berfungsi untuk pelestarian budaya kelompok sendiri, namun mampu pula memunculkan sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme merupakan sikap yang memandang budaya orang lain dari kacamata budaya sendiri akibatnya dapat memunculkan sebuah konflik sosial. Sedangkan sistem stratifikasi sosial menjadikan struktur masyarakat memiliki kesenjangan sosial.

Hal ini dikarenakan dalam sistem stratifikasi memuat lapisan-lapisan sosial masyarakat yang berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan. Tingkatan-tingkatan ini diibaratkan sebagai sebuah anak tangga. Karenanya di dalam masyarakat terdapat penggolongan secara vertikal, yaitu kelompok masyarakat yang lebih tinggi atau lebih rendah apabila dibandingkan dengan kelompok lain.

Dengan kata lain, segolongan kelompok orang-orang dalam suatu strata, jika dibandingkan dengan orang-orang dari kelompok strata lain akan terlihat jelas perbedaan-perbedaan yang ada. Contoh: perbedaan hak, penghasilan, pembatasan, dan kewajiban. Perbedaan ini sering kali memunculkan sikap penindasan terhadap kelompok lainnya. Kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan lebih tinggi memiliki hak dan keuntungan serta fasilitas-fasilitas yang lebih banyak dibanding dengan kelompok-kelompok masyarakat yang menempati strata lebih rendah.

Bertumpu dari keadaan ini, akhirnya kehidupan masyarakat berstratifikasi akan menampakkan gejala yang membuat hidup dirasa sebagai penindasan oleh kelompok-kelompok besar masyarakat.

referensi :
Kelas_11_sosiologi_vina_dwi_laning hal. 20-21
jangan pergi dulu, ada postingan yang lain nih!!

Arsip Blog