Home » » ADAB BERGAUL DALAM ISLAM

ADAB BERGAUL DALAM ISLAM

Written By Bangmu2 Editor on Minggu, 24 Maret 2013 | 02.52


Menutup aurat

Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh ditampakkan kecuali kepada muhrimnya. Wanita maupun pria memiliki batasan-batasan aurat. Khusus wanita, aurat ibarat perhiasan yang sangat berharga. Ini sesuai firman Allah dalam Al Quran surat An-Nuur ayat 31. Ayat tersebut memerintahkan wanita Muslimah agar tidak menampakkan perhiasan (aurat), kecuali kepada suami, ayah, dan beberapa pihak lain yang termasuk dalam pengecualian.

Dalam ayat tersebut, Allah juga melarang para wanita bertabaruj. Tabaruj adalah berhias diri secara berlebihan, sehingga mengundang syahwat kaum Adam. Yang termasuk perilaku tabaruj juga adalah memakai wangi-wangian yang baunya dapat tercium orang lain di tempat umum. Memakai perhiasan (gelang, kalung, dan lain-lain) secara berlebihan dan mencolok mata juga termasuktabaruj.


Menjaga interaksi antara lelaki dan perempuan

Allah melarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk saling berpandangan secara berlebihan, apalagi saling bersentuhan. Dalam Al Quran surat An-Nuur ayat 31 Allah bahkan secara khusus mengingatkan kaum lelaki agar menjaga pandangan dan memelihara kemaluannya. Artinya, tidaklah temasuk lelaki beriman jika matanya suka jelalatan dan bergonta-ganti pasangan seperti berganti pakaian.

Pandangan mata secara berlebihan serta persentuhan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim juga bisa menimbulkan zina. Buka Al Quran surat Al-Isra’ ayat 32. Dalam ayat ini Allah melarang kita mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang sangat keji. Pandangan mata dan persentuhan tubuh adalah salah satu tindakan mendekati zina. Jika mendekati zina saja haram dan mendapat larangan keras, Anda tentu bisa menyimpulkan sendiri, betapa berdosanya perbuatan zina yang sekarang demikian merajalela dan dilakukan manusia tanpa rasa bersalah!


Menjaga aurat suara

Baik perempuan atau laki-laki, hendaknya tidak mengeluarkan kata-kata secara mesra atau berlebihan kepada lawan jenis selain istri atau suaminya. Hal ini tertuang dalam firman Allah swt., Al Quran Surat Al-Ahzaab ayat 32. Dalam ayat ini, secara khusus Allah mengingatkan istri-istri Nabi agar jangan melembutkan suara ketika bicara sehingga membangkitkan nafsu lelaki yang mendengarnya.

Walaupun ayat tersebut ditujukan kepada para istri Nabi, tak ada salahnya kita meneladani ajaran Al Quran yang selalu memiliki hikmah tersendiri bagi pengikutnya. Sebagian ulama juga berpendapat bahwa ayat tersebut juga berlaku untuk wanita biasa. 


Larangan berdua-duaan (berkhalwat)

Allah swt. melarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya saling berdua-duaan, kecuali disertai mahramnya atau orang ketiga. Menurut Rasulullah saw., jika lelaki dan perempuan berdua-duaan, maka akan muncul pihak ketiga, yakni setan. Apa akibatnya jika setan ikut “nimbrung” di antara dua manusia yang berlainan jenis? Anda tentu sudah tahu jawabannya, bukan?

Demikian beberapa adab pergaulan dalam Islam yang harus diperhatikan setiap umat Islam yang mengaku beriman. Islam tak pernah melarang pergaulan dengan siapa pun. Bergaul bahkan sangat dianjurkan sebagai upaya meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Yang dilarang adalah pergaulan secara bebas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim. Pergaulan yang tidak mematuhi norma-norma agama.


Mendidik Anak agar Paham Adab Pergaulan dalam Islam

Semakin maraknya pendirian berbagai sekolah bernapaskan Islam merupakan salah satu hal yang baik dan harus disambut dengan tangan terbuka. Sekolah-sekolah itu diharapkan akan memberikan pengetahuan dan mendidik para generasi Islam dengan lebih baik. Generasi yang paham kedudukan dan martabatnya sebagai manusia. Generasi yang mengerti bahwa mereka adalah khalifah di bumi. Sebagai khlaifah mereka harus berwibawa dengan membawa panji-panji keislaman termasuk memahami bagaimana adab pergaulan dalam Islam.

Jangan sampai generasi Islam malah terserabut dari pengetahuan tentang pergaulan dalam Islam. Kalau mereka tidak mengetahui hal tersebut, bagaimana mereka bisa menjadi generasi yang diharapkan akan menjadi pemimpin dimasa depan. Pemimpin yang tahu bagaimana menghargai orang lain dan bagaimana memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya. Pemimpin yang tidak paham adab tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang tidak baik pastilah tidak akan bisa membawa satu bangsa menjadi bangsa yang dihormati dan dihargai oleh orang lain yang berasal dari berbagai bangsa.

Tata cara mendidik anak agar mampu memahami pergaulan dalam Islam memang harus dilakukan secara dini. Tidak harus banyak teori terlebih dahulu. Cukup dengan membiasakan anak masuk ke dalam pergaulan dalam Islam. Dengan demikian, mereka tidak akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu yang sulit karena memang pergaulan dalam Islam itu telah menjadi bagian dari hidup mereka. Mereka hidup seperti itu.

Kalau di sekolah telah dididik seperti itu, di rumah tentunya seperti itu juga. Anak-anak hidup dalam pergaulan dalam Islam yang berlaku di rumahnya masing-masing. Misalnya, mereka tahu bagaimana berlaku terhadap ibu, nenek, tamu yang datang ke rumahnya, dan hal-hal lainnya. Kebiasaan itu akan mendarah daging. Ketika kebiasaan telah mendarah daging, biasanya hal itu akan menjadi bagian dari kepribadian anak-anak.

Kalau anak-anak telah mempunyai kepribadian yang islami, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang dewasa dengan pemahaman tentang bagaimana beryndak-tanduk di dalam maupun di luar rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh yang mempunyai prinsip hidup yang tak mudah goyah. Kalau semua anak Indonesia telah mempunyai kepribadian yang hebat, mereka pasti akan menjadi cermin bagi orang lain untuk berbuat seperti mereka. Dengan demikian, pergaulan dalam Islam itu bisa termasyarakatkan tanpa harus memakan biaya yang mahal dan juga tak harus dikampanyekan karena semua umat Islam telah berbuat sesuai dengan tatanan dan tuntunan pergaulan dalam Islam.

Baca Juga





http://www.prchecker.info/

Google+ Followers