Home » » JENIS JENIS PRANATA SOSIAL

JENIS JENIS PRANATA SOSIAL

Written By Bangmu2 Editor on Rabu, 05 September 2012 | 19.50


1. PRANATA KELUARGA
2. PRANATA PENDIDIKAN
3. PRANATA AGAMA
4. PRANATA EKONOMI
5. PRANATA POLITIK





a. Pranata Keluarga
I. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Setiap anggota keluarga punya peran dan fungsi yang jelas, contohnya: ayah adalah kepala keluarga sekaligus yang bertanggungjawab menghidupi keluarga; ibu adalah pengatur, pengurus, dan pendidik anak; sedangkan anak harus berbakti kepada orang tua.

Ada 2 macam bentuk keluarga yang umum dipelajari, yaitu :
a. Keluarga Inti (nuclear family) atau keluarga batih, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri ayah, ibu, dan anak-anak kandung/tiri yang belum menikah.

b. Keluarga Luas (extended family) adalah keluarga inti ditambah anggota kerabat lain, seperti ayah, ibu anak yang belum dewasa, paman, nenek, kakek, keponakan, dan anak yang sudah kawin.


II. Sistem Perkawinan
Proses terbentuknya suatu keluarga melalui suatu perkawinan yang sah menurut agama, adat atau pemerintah.

a. Dilihat dari jumlah suami atau istri, sistem perkawinan dibedakan menjadi :
1. Monogami, yaitu perkawinan antara satu orang pria dengan satu orang wanita.
2. Poligami, yaitu perkawinan antara satu orang pria dengan lebih dari satu wanita.


b. Dilihat dari asal suami atau istri, sistem perkawinan dibedakan mejadi :
1. Eksogami, yaitu perkawinan pria dan wanita dari ras, suku bangsa, yang berbeda.
2. Endogami, yaitu perkawinan pria dan wanita dari ras, suku bangsa, klan/marga yang sama
3. Homogami, yaitu perkawinan pria dan wanita dari satu lapisan sosial yang sama.Contohnya perkawinan antar sesama anak bangsawan.
4. Heterogami, yaitu perkawinan pria dan wanita dari satu lapisan sosial yang berbeda. Contohnya perkawinan antara anak bangsawan dengan rakyat biasa.


c. Dilihat dari kedudukan pemberi dan penerima gadis, sistem perkawinan di bedakan :
1. Connubium Asymetris adalah hubungan perkawinan yang tiap klan/marganya hanya mempunyai satu kedudukan sebagai pemberi/penerima gadis terhadap satu klan lainya.
2. Connubium Symetris adalah hubungan perkawinan antara dua klan/marga, terjadi tukar menukar jodoh bagi para pemudanya.


d. Dilihat dari pola menetap sesudah perkawinan, dibedakan atas:
1. Patrilokal/Virilokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami.
2. Matrilokal/Uxorilokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat istri.
3. Bilokal, yaitu pasangan pengantin menetap secara bergantian di tempat kerabat suami dan kerabat istri.
4. Neolokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di kediaman baru.
5. Avunkeelokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di rumah saudara laki-laki ibu/paman pihak suami.
6. Natalokal, yaitu pasangan pengantin tidak tinggal bersama, tetapi masing-masing menetap di daerah kelahirannya.
7. Utralokal, yaitu pasangan pengantin bebas menentukan tempat tinggal setelah menikah.
8. Kanon lokal, yaitu kebiasaan bertempat tinggal dalam bentuk kelompok, termasuk dengan orang tua kedua pihak.


III. Sistem Kekerabatan
Kekerabatan adalah suatu unit sosial yang tiap individunya memiliki hubungan keturunan atau hubungan darah, terbentuk berdasarkan perkawinan. Kekerabatan terjadi dari keluarga yang lama kelamaan tidak tertampung dalam satu rumah. Perluasaan keluarga inilah yang menimbulkan sistem kekerabatan. Macam-macam sistem kekerabatan adalah:

a. Bilateral/Parental, kekerabtan ini menghitung hubungan keluarga melalui garis keturunan dari ayah dan ibu. Contohnya di suku Jawa, Sunda, Bugis, Makasar.
b. Unilateral, kekerabatan yang menarik garis keturunan hanya dari satu pihak , yakni dari garis bapak saja atau ibu saja, dan jika garis keturunan dari ayah saja disebut patrilineal , contohnya di suku Ambon, Batak, Bali, Asmat. Kalau dari ibu saja disebut matrilineal.
c. Antilineal, sistem kekerabatan ini hanya menarik garis keturunan dari pihak ayah, namun sebagian lagi dari pihak ibu, contohnya suku Dayak.

IV. Fungsi Pranata Keluarga
Fungsi pranata keluarga antara lain:
a. Melanjutkan reproduksi/.keturunan.

b. Mempertahankan ekonomi bagi seluruh warga.
c. Fungsi afeksi atau kasih saying.
d. Fungsi pengawasan tahund keluarga.
e. Fungsi proteksi atau perlindungan.
f. Wadah pendidikan informal umum/agama.
g. Meletakkan dasar-dasar sosialisasi.
h. Tempat terselenggaranya transmisi kebudayaan.





b. Pranata Pendidikan
Pranata pendidikan merupakan salah satu pranata penting dalam masyarakat, karena merupakan salah satu wadah nilai-nilai ideal di masyarakat. Secara historis, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi ini.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pusat pendidikan dibagi 3 macam (Tri Pusat Pendidikan) yang meliputi :

1. Lingkungan Pendidikan Keluarga (Pendidikan Informal)
Ketika kehidupan manusia masih sederhana orang tua mendidik anaknya atau anak belajar pada orang tuanya/orang lebih tua di lingkungannya, bahkan tidak jarang anak belajar dari alam sekitarnya. Lingkungan pendidikan keluarga adalah bentuk yang sebenarnya dari konsep pendidikan selama hidup (life long education).


2. Lingkungan Pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal)
Sesuai perkembangan jaman untuk melengkapi pendidikan informal maka dibentuklah pranata pendidikan formal, seperti sekolah umum, meliputi : play group, TK s/d Perguruan Tinggi maupun sekolah yang khusus, seperti sekolah agama dan sekolah luar biasa.


3. Lingkungan Pendidikan Masyarakat (Pendidikan Non Formal)
Pendidikan masyarakat berupa pelayanan pendidikan ketrampilan praktis, seperti kursus: ketrampilan, menjahit, bengkel, bahasa, komputer, dsb.


Pranata Pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.

2. Mengembangkan bakat perorangan demi kepuasan pribadi.
3. Melestarikan kebudayaan serta berbagai transmisi kebudayaan masyarakat.
4. Mengurangi pengendalian orang tua melalui sekolah.
5. Memperpanjang masa remaja, karena kedewasaan anak terhambat sebab secara ekonomi masih menggantungkan orang tua
6. Mobilitas sistem kelas sosial, melalui sekolah dapat menjadi saluran mobilitas sosial bagi siswa ke status yang lebih tinggi.


c. Pranata Agama
Agama (religion) adalah suatu prinsip kepercayaan kepada Tuhan, baik yang berdasarkan wahyu maupun kepercayaan yang diciptakan manusia. Agama/kepercayaan dibutuhkan manusia sebagai pedoman hidup baik di dunia maupun akhirat. Agama merupakan sarana bagi manusia untuk berhubungan dengan Tuhan YME, sesama manusia, dan lingkungannya. Manusia yang beragama harus konsekuen terhadap aturan agamanya, sehingga harus senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pranata Agama merupakan hal penting dalam kehidupan manusia. Pranata agama merupakan pranata yang paling tua, sebab telah ada sejak masa kehidupan prasejarah. Sejak dahulu kala manusia telah mempunyai kepercayaan animisme, dinamisme, totenisme, hinduisme, sintoisme dan lainnya. Walaupun suku-suku bangsa di Indonesia sekarang telah memeluk agama tetapi konsep animisme dan dinamisme kadang masih sering dijalankan.


Beberapa fungsi pranata agama adalah sebagai berikut :
1. Agama memberikan pedoman bagi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, antarmanusia, dan dengan lingkungannya.
2. Melalui agama manusia terbimbing untuk mengahayati makna kehidupan.
3. Agama dapat membantu manusia memecahkan persoalan yang tidak terjawab, melenyapkan kecemasan, dan mempertebal keyakinan.
4. Agama menuntun terbentuknya moral masyarakat, mendukung keutuhan sistem sosial, dan mempersatukan masyarakat baik secara lahiriah maupun yang bersifat simbolik.



d. Pranata Ekonomi
Pranata ekonomi merupakan pranata sosial yang menangani masalah kesejahteraan dan material, yaitu mengatur kegiatan atau cara-cara produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa yang diperlukan masyarakat.

Pranata ekonomi masyarakat tradisional berlandaskan prinsip gotong royong dan bertumpu pada sektor pertanian. Pengaruh prinsip gotong royong mengakibatkan tidak adanya sistem pembagian kerja (deferensiasi ekonomi berdasarkan keahlian), kemampuan fisik, dsb. Di luar pertanian, kebutuhan manusia ditempuh dengan cara tukar menukar (barter) maupun melalui jual beli di pasar. Pranata ekonomi masyarakat modern bertumpu pada sektor industri, sehingga mengenal adanya sistem pembagian kerja sesuai tingkat keahlian seseorang, karena itu ada manajer, karyawan, dan buruh. Sistem ekonomi masyarakat modern di bedakan dalam 3 fungsi, yaitu, produksi, distribusi dan konsumsi.


Unsur-unsur pranata ekonomi dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Pola penilaian : Efisiensi, mencari kepentingan, professional.
2. Budaya simbolis : Hak paten, merk dagang, slogan.
3. Budaya manfaat : Toko, pasar, pabrik.
4. Kode spesialisasi : Lisensi, kontrak, akte perusahaan.
5. Ideologi : Liberalisme, hak buruh, manajerial.


e. Pranata Politik
Kehidupan politik suatu masyarakat merupakan suatu bentuk organisasi sosial yang di dalamnya terdapat aturan mengenai pembagian kekuasaan dan wewenang. Pranata politik ditandai dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik sebagai wujud demokratisasi masyarakat.

Menurut J.W. Schoorl, pranata politik adalah peraturan-peraturan untuk memelihara tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan dan untuk memilih pemimpin yang berwibawa. Menurut Kronblum, pranata politik merupakan perangkat norma dari status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang.

Fungsi Pranata Politik meliputi sebagai berikut :
1. Memelihara ketertiban di dalam masyarakat dengan wewenang yang dimiliki, baik secara persuasif atau paksaan fisik.

2. Memelihara dan menjaga keamanan di luar, artinya pranata politik berusaha menjaga negara dari ancaman negara lain melalui diplomasi maupun perang.

3. Mengusahakan kesejahteraan umum, artinya pranata politik merencanakan dan melaksanakan pelayanan sosial/umum, seperti pendidikan, kesehatan sandang, dsb.

4. Mengatur proses politik, artinya pranata politik mengatur proses persaingan dalam memperoleh kekuasaan, seperti melembagakan nilai dan norma melalui UU, melaksanakan UU, dsb.


Unsur-Unsur Pranata Politik meliputi hal-hal berikut ini.
1. Pola Perilaku : Loyalitas, kerjasama, konsensus.

2. Budaya simbol : Bendera, lagu kebangsaan.

3. Budaya manfaat : Gedung, persenjataan.

4. Kode spesialisasi : Hukum, konstitusi, traktat.

5. Ideologi : Nasionalisme, demokrasi

Sponsor

Google+ Followers

Populer Minggu Ini

Diberdayakan oleh Blogger.